Ada kisah menarik pada zaman kekhalifahan Harun ar-Rasyid. Dikisahkan dua putra khalifah menuntut ilmu ke Imam Al Kisa’i, seorang Ulama pakar bahasa Arab dan Al Quran. Imam Al Kisa’i menguasai Qiraah Sab’ah. Demikian tingginya adab dan khidmah kedua putra khalifah, mereka sampai berebut memakaikan sandal gurunya, Imam Al Kisa’i. Sekali lagi, berebut memakaikan sandal! Melihat tingkah kedua muridnya itu, sang Imam terkagum-kagum. Sang Imam lantas memerintahkan masing-masing memasang satu sandal.
Sunday, 23 August 2020
OJO NGERASANI GURUMU
Ada kisah menarik pada zaman kekhalifahan Harun ar-Rasyid. Dikisahkan dua putra khalifah menuntut ilmu ke Imam Al Kisa’i, seorang Ulama pakar bahasa Arab dan Al Quran. Imam Al Kisa’i menguasai Qiraah Sab’ah. Demikian tingginya adab dan khidmah kedua putra khalifah, mereka sampai berebut memakaikan sandal gurunya, Imam Al Kisa’i. Sekali lagi, berebut memakaikan sandal! Melihat tingkah kedua muridnya itu, sang Imam terkagum-kagum. Sang Imam lantas memerintahkan masing-masing memasang satu sandal.
Romo Yai Anwar Ma'shum PENGASUH PON PES AL ANWAR GUWA KIDUL CIREBON
Romo Yai Anwar Ma'shum PENGASUH PON PES AL ANWAR GUWA KIDUL CIRBON Pernah suatu ketika saya diminta mengantar dan menemani beliau menghadiri undangan acara Khaul & Khataman Pondok Pesantren Khas Kempek yang tidak lain pengasuhnya adalah adik-adik sepupu beliau sendiri. Seperti, KH. Ja'far 'Aqil (Alm), KH. Musthofa 'Aqil, termasuk Ketua Umum PBNU, KH. Sa'id 'Aqil, hanya saja beliau tinggalnya di Jakarta dan mengasuh Pondok disana.
Pada saat itu bertepatan hari Jum'at, dimana rutinitas Romo Yai berziarah ke makam ibu, ayah, dan kakek buyut beliau di Gedongan, Allah yarhamhum. Meskipun dalam keadaan lelah sehabis menempuh perjalanan Gedongan-Guwa Kidul yang kira-kira jaraknya kurang lebih 2 jam menggunakan angkutan umum, beliau tetap memaksakan berangkat walau tanpa istirahat meskipun sebentar.
Kebetulan acara itu dihadiri oleh Presiden RI Joko Widodo. Namun yang membuat saya heran sekaligus kagum adalah Romo Yai meminta diantarkan hanya dengan menggunakan kendaraan bermotor saja, padahal bisa saja beliau pergi menggunakan mobil pribadi. Beliau hanya dawuh, "sin, hayu anter meng Kempek ngadiri acara haul, nganggo motor bae supaya bisa ngejar waktu Maghrib neng kana". Saya hanya sendiko dawuh Yai saja, "nggih yai" jawab saya.
Kemudian kami berangkat menuju tempat acara sekitar jam setengah 6. Di sepanjang perjalanan, seperti biasa, beliau tidak lepas dari shalawat "Shalallahu 'ala Muhammad". Sesampainya di sana, saya kira beliau langsung masuk ke rumah keluarga Yai Musthofa 'Aqil, atau paling tidak beliau bisa sholat dan beristirahat di tempat tamu VIP yang telah disediakan. Akan tetapi beliau lebih memilih shalat di musholla Pondok yang penuh dan ramai wali santri yang sedang mengunjungi anaknya. Dan beliau bersikap layaknya tamu biasa. Setelah selesai sholat, beliau hendak menuju ke kediaman Yai Musthofa. Namun baru beberapa langkah keluar dari musholla, nampak orang-orang berdiri dan berdesakan menyaksikan rombongan Presiden hendak pulang. Saya yang sebelumnya berjalan dibelakang beliau, berjalan mengiringi ke samping hendak meminta jalan untuk beliau lewat. Namun beliau mencegah agar saya tidak perlu melakukan itu. Akhirnya saya urungkan dan beberapa saat kemudian terdengar suara perempuan dari arah belakang memanggil nama beliau, "Kang Anwar" sapanya. Beliau menengok dan memberikan isyarat agar tidak menyebut namanya keras-keras. Perempuan itu tak lain adalah saudara kandung beliau sendiri, Nyai Marhamah.Setelah rombongan Presiden pulang, baru kemudian beliau menuju ke tempat tamu VIP dan menemui Kyai Musthofa'Aqil.
Sekian yang dapat saya tulis, kiranya keteladanan serta kesederhanaan beliau dapat di jadikan contoh dan mampu di amalkan oleh kita sebagai santrinya. Saya jadi teringat dawuh beliau, yang kurang lebihnya seperti ini; "kita itu susah mau niru keteladanan Kanjeng Nabi. Jangankan niru Kanjeng Nabi, lah wong niru guru sendiri aja sulit" kemudian beliau melanjutkan dawuhnya dengan bercerita; "Guru saya, Mbah Ali Ma'shum itu kalau ada undangan untuk ngaji dan jaraknya harus ditempuh dengan mobil, beliau malah menggunakan sepeda motor. kalau jaraknya harus ditempuh dengan menggunakan motor, beliau malah menggunakan sepeda. Dan kalau jaraknya harus ditempuh minimal dengan menggunakan sepeda, beliau malah jalan kaki." Nah, hal semacam itu saja kita sebagai murid agak sulit untuk menirunya. Tapi bagaimanapun juga kita harus tetap berusaha."
Peletakan batu pertama pon pes Raudlatul Ihsan
Peletakan batu pertama langsung di pimpin oleh Romo Kiyai H.Anwar ma'sum Gua-Kaliwedi-Cirebon
-
تَعَاهَدُوا القُرْآنَ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنَ الإِبِلِ فِي عُقُلِهَا “Jagalah (hafalan) Al-Qur’an i...
-
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-5306275425825725" crossori...