Tuesday, 28 September 2021

Jagalah (hafalan) Al-Qur’an mu

 


تَعَاهَدُوا القُرْآنَ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنَ الإِبِلِ فِي عُقُلِهَا “Jagalah (hafalan) Al-Qur’an itu, maka demi Dzat, jiwaku di kekuasaaNya, sungguh ia (Al-Qur’an) lebih cepat lepasnya daripada unta dari ikatannya”.. Jadi Menjaga hafalan Al-Qur’an butuh meluangkan waktu agar hafalannya tetap terjaga dan melekat dalam jiwanya. Sebab menghafal Al-Qur’an bisa dilakukan di waktu luang sedangkan menjaganya butuh meluangkan waktu. Ibarat sebuah bangunan, bangunan yang sudah berdiri tegak butuh pemeliharaan dan penjagaan selama-lamanya agar bangunan itu tetap kokoh tidak roboh. Demikian pula hafalan Al-Qur’an, ia butuh waktu seumur hidup untuk menjaganya agar hafalan itu tidak lupa dari memori ingatannya. Sebab melalaikan hafalan sama halnya melalaikan amanah yang dianugerahkan kepadanya





PADA FASE KEHILANGAN HAFALAN




Ada yang putus asa, sebab tengah mengalami kehilangan dalam menghafal. Bagaimana jika aku katakan: kehilangan adalah fase yang pasti dialami setiap penghafal. Bukan kamu saja.
Iya. Sebab jika kita tak pernah mengalami kehilangan, kita takkan pernah tahu betapa sakitnya berpisah dari Al-Quran. Kehilangan selalu ada, agar raga terus berjuang, tangan senantiasa menengadah, dan lisan selalu merapal doa-doa.
Apakah kamu berpikir, saat kita menghafal satu ayat, maka iya akan kuat begitu saja dalam ingatan?
Tidak! Ayat tersebut sesakali menghilang pergi, dan menunggu apa yang kita lakukan setelah itu. Mengajarnya, ataukah mengabaikannya. Ini saya sebut sebagai 'Ujian Kesetiaan'.
Mereka yang kesetiannya teruji, takkan hanya diam berdiri. Semangatnya membara, mengejar demi mendapatkannya lagi. Tapi yang kesetiannya lemah, memilih diam dan pasrah, sebab tak sanggup menghadapi hantaman rasa lelah. Sebab itulah, mereka kalah.
Ingat ini. Jika hafalan dengan mudah begitu saja lekat dan tak pernah lepas, bagaimana kita tahu 'siapa yang benar-benar berjuang, dan siapa yang begitu lemah mudah berputus asa?'
Cepat atau lambat, fase 'kehilangan' pasti akan kita temui. Saat itu terjadi, pilihannya hanya dua: Berjuang mengambilnya lagi, atau menyerah dengan kondisi.
Seberat apapun yang kamu rasakan, pilihlah yang pertama. Sebab bagi para pejuang, menyerah bukanlah pilihan. lewatilah dengan mujahadah menekan nafsu malas untuk perlahan melancarkan hafalan dan mentakrir ngikat hafalan.
اَللهم اجْعَلْنَا َاَهْل اْلقُرْآنِ محبین القران قرانا یمشی علی الارض
اَللّهُمَّ يَسِّرْ وَ لَا تُعَسِّر سهل امورنا حصل مقاصدناووسع ارزاقنا

Peletakan batu pertama pon pes Raudlatul Ihsan

Peletakan batu pertama langsung di pimpin oleh Romo  Kiyai H.Anwar ma'sum Gua-Kaliwedi-Cirebon