Monday, 11 October 2021

Peletakan batu pertama pon pes Raudlatul Ihsan



Peletakan batu pertama langsung di pimpin oleh Romo  Kiyai H.Anwar ma'sum Gua-Kaliwedi-Cirebon 

 

Tuesday, 28 September 2021

Jagalah (hafalan) Al-Qur’an mu

 


تَعَاهَدُوا القُرْآنَ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنَ الإِبِلِ فِي عُقُلِهَا “Jagalah (hafalan) Al-Qur’an itu, maka demi Dzat, jiwaku di kekuasaaNya, sungguh ia (Al-Qur’an) lebih cepat lepasnya daripada unta dari ikatannya”.. Jadi Menjaga hafalan Al-Qur’an butuh meluangkan waktu agar hafalannya tetap terjaga dan melekat dalam jiwanya. Sebab menghafal Al-Qur’an bisa dilakukan di waktu luang sedangkan menjaganya butuh meluangkan waktu. Ibarat sebuah bangunan, bangunan yang sudah berdiri tegak butuh pemeliharaan dan penjagaan selama-lamanya agar bangunan itu tetap kokoh tidak roboh. Demikian pula hafalan Al-Qur’an, ia butuh waktu seumur hidup untuk menjaganya agar hafalan itu tidak lupa dari memori ingatannya. Sebab melalaikan hafalan sama halnya melalaikan amanah yang dianugerahkan kepadanya





PADA FASE KEHILANGAN HAFALAN




Ada yang putus asa, sebab tengah mengalami kehilangan dalam menghafal. Bagaimana jika aku katakan: kehilangan adalah fase yang pasti dialami setiap penghafal. Bukan kamu saja.
Iya. Sebab jika kita tak pernah mengalami kehilangan, kita takkan pernah tahu betapa sakitnya berpisah dari Al-Quran. Kehilangan selalu ada, agar raga terus berjuang, tangan senantiasa menengadah, dan lisan selalu merapal doa-doa.
Apakah kamu berpikir, saat kita menghafal satu ayat, maka iya akan kuat begitu saja dalam ingatan?
Tidak! Ayat tersebut sesakali menghilang pergi, dan menunggu apa yang kita lakukan setelah itu. Mengajarnya, ataukah mengabaikannya. Ini saya sebut sebagai 'Ujian Kesetiaan'.
Mereka yang kesetiannya teruji, takkan hanya diam berdiri. Semangatnya membara, mengejar demi mendapatkannya lagi. Tapi yang kesetiannya lemah, memilih diam dan pasrah, sebab tak sanggup menghadapi hantaman rasa lelah. Sebab itulah, mereka kalah.
Ingat ini. Jika hafalan dengan mudah begitu saja lekat dan tak pernah lepas, bagaimana kita tahu 'siapa yang benar-benar berjuang, dan siapa yang begitu lemah mudah berputus asa?'
Cepat atau lambat, fase 'kehilangan' pasti akan kita temui. Saat itu terjadi, pilihannya hanya dua: Berjuang mengambilnya lagi, atau menyerah dengan kondisi.
Seberat apapun yang kamu rasakan, pilihlah yang pertama. Sebab bagi para pejuang, menyerah bukanlah pilihan. lewatilah dengan mujahadah menekan nafsu malas untuk perlahan melancarkan hafalan dan mentakrir ngikat hafalan.
اَللهم اجْعَلْنَا َاَهْل اْلقُرْآنِ محبین القران قرانا یمشی علی الارض
اَللّهُمَّ يَسِّرْ وَ لَا تُعَسِّر سهل امورنا حصل مقاصدناووسع ارزاقنا

Saturday, 6 March 2021

Hafalanku Maryana Fauziah

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-5306275425825725" crossorigin="anonymous"></script> 

Hafalan, Menggenggammu terlalu erat akan membuatmu terkekang, membebaskanmu ke awan akan membuatmu berlari. Jadi apa maumu?

Terkadang aku tidak mengerti denganmu, segala rasa yang ku punya meluap membuatku geram pada setiap buih lelah terlewati. Membuih tangis yang hatiku hanya sekedar berharap.

Denganmu; Aku tau rasanya tak diperdulikan. Aku tau rasanya perlahan dilupakan. Aku tau rasanya hampir ditinggalkan. Denganmu; Hidupku menemukan jalan terang dengan cahaya, yang menyeretku dari ruang gelap gulita. Denganmu,Ku temukan hidup dalam kesendirian, bahwa semua hal selalu harus direnungkan.

Denganmu hafalanku, ku rangkai sebuah mahkota cahaya untuk aku persembahkan kepada mereka penyejuk mata. Denganmu hafalanku, segenap jiwa belum sepenuhnya padamu, namun kekuatanmu membuatku terus melaju bahwa tidak ada kesusahan sesudah kesulitan.

Dan aku tau, denganmulah.. kau menjagaku

Saturday, 9 January 2021

PENDEWASAAN SEORANG SANTRI

PENDEWASAAN SEORANG SANTRI
       ketika di pesantren seorang santri akan dituntut dewasa oleh keadaan bukan kemauan.Makannya Tahap pendewasaan seorang santri terkadang sangatlah cepat,karena seorang santri pasti akan menghadapi beberapa problema. nah...dari problema itulah pendawasaan akan muncul sedikit demi sedikit. ketika di pesantren santri akan di tuntut dewasa oleh keadaan,di paksa untuk menjadi dewasa oleh keadaan memang menyakitkan karna pada hakekatnya kedewasan tidak diukur melalui umur melainkan diukur dari seberapa kita mampu menghadapi semua problema kehidupan tanpa campur tangan orang lain meskipun itu orang tua kita sendiri.
         cara kita melihat dan menilai kedewasaan seseorang dengan melalui cara berbicara dan cara berfikirnya bukan hanya dari penampilannya saja,ada banyak orang yg hanya berpenampilannya saja yg terlihat dewasa namun,ketika dia menghadapi masalah hanya bisa menangis dan akan berfikir bagaimana caranya kita lari dari masalah itu bukan memikirkan


Peletakan batu pertama pon pes Raudlatul Ihsan

Peletakan batu pertama langsung di pimpin oleh Romo  Kiyai H.Anwar ma'sum Gua-Kaliwedi-Cirebon